Catatan Seorang PNS: Selamat tinggal 2019!
29 Desember 2019, hari ke 10 tanpa cetrizin. Saya rasa saya sudah hampir sepenuhnya pulih dari semua kelelahan selama satu tahun terakhir. 2019 sungguhlah berat.
Banyak sekali hal-hal yang belum tercapai antara lain: tidak ada publikasi ilmiah maupun konferensi tahun ini. Nilai IELTS kurang 0.5 point dari target. Tabungan saya belum bisa buat beli kebun sendiri.
Tahun 2019 saya mengenali musuh baru antara lain: polusi, debu, karpet, AC, gula, micin, dan asap rokok. Seringkali saya dibuat repot karena mereka (25 tahun hidup dan baru keluar serangan-serangan alergi berkepanjangan like.. how). 6 bulan terakhir saya habiskan dengan wondering saya sakit apa, hingga hasil rontgen menyatakan bronkhitis. Aneh sekali, padahal bulan Juni saya masih sempat naik gunung.
However, mari kita reviu hal-hal baik yang terjadi tahun ini:
Saya jadi rutin sekali berolahraga. Saya juga memulai kembali perburuan beasiswa (I will never settle for this). Saya bertemu mentor yang luar biasa. Lebih sering pulang ke Malang atau Surabaya. Mendaki satu gunung dan satu bukit. Mencapai target di kantor. Jalan-jalan bersama sahabat-sahabat lama dan nonton John Mayer. Terakhri, saya mensyukuri fakta bahwa saya bekerja untuk lembaga riset (walaupun plat merah).
Tahun pertama saya sebagai PNS (official) sungguh tidak mudah. Saya belajar banyak hal. Kalau saya punya kekuatan super, saya ingin bisa meruntuhkan tembok birokrasi yang kaku dan tidak meanrik. Tapi saya terlalu cinta riset, sehingga seolah menjadi bagian dari Badan Litbang adalah satu-satunya yang bisa saya syukuri dari seluruh sistem birokrasi negara ini.
Tahun depan saya ingin (harus) lanjut kuliah. Saya akan ambil kebijakan publik. Meskipun naif, saya ingin kebijakan dibuat berdasarkan riset. Bukan berdasarkan kepentingan golongan atau orang perorangan. Saya akan berusaha pegang idealisme saya ini hingga suatu hari nggak jadi PNS lagi.
***
Saya harus akui kalau alergi saya juga dampak dari kondisi mental yang sering naik turun, walau sering turunnya. Tapi kepulangan saya ke Malang kemarin membawa beberapa pelajaran. Seminggu lalu saya masih berharap bisa pergi dari Jakarta for good (dan bersedia jadi PNS daerah yang seringkali di stigmakan dengan zuma dan seringkali juga memang benar adanya). Kota Malang memang tidak berubah. Tapi kemanapun saya pergi, saya jadi merasa terlalu tua untuk kota ini. I came to the realization that my dream is too big for my hometown.
Kembali ke Jakarta, saya turun dari pesawat dengan sebuah niat: Saya siap untuk Jakarta dan apapun yang terjadi didalamnya untuk tahun 2020.
***
2020 saya berharap bisa naik Gunung, bisa mengunjungi tempat-tempat eksotis di Asia Tenggara, bisa menabung lebih banyak lagi, bisa pulang ke rumah lebih sering lagi, bisa segera melanjutkan pendidikan master, bisa membaca lebih banyak buku dan lebih sedikit main instagram, bisa lebih rutin olahraga dan makan sehat dan
I don't know why am I writing this but I hope I found the love of my life.
***
Saya baru saja selesai membaca buku Catatan Seorang Demonstran Soe Hok Gie. Gie dan idealismenya, buku-buku yang tamat dibacanya untuk orang seusia dia, aktivitasnya di gunung, dan keberaniannya untuk selalu bersikap kritis. Saya sungguh kagum. Jadi saya akan tutup Catatan Seorang PNS saya dengan quotes dari Gie:
"Orang hanya punya dua pilihan. Menjadi apatis atau ikut arus. Tapi syukurlah ada pilihan ketiga: menjadi manusia bebas"



Komentar
BONUS CASHBACK 0.3% setiap senin
BONUS REFERAL 20% seumur hidup.