Argo
Dieng Plateau
Sebuah impian jika pensiun. Menanam bunga di kaki gunung.
Kaki Prau via Patak Banteng
Ayah pernah bercerita kalau Mbah pernah bersemedi 3 bulan lamanya
di Arjuno ketika beliau berduka. Kecintaan saya pada gunung dan kecenderungan untuk kerap menjadikan gunung sebagai pelarian ketika bersedih rupanya mengalir dari darah Mbah.
Dari belakang rumah saya di Kota Malang, saya bisa lihat Arjuno bergeliat tiap pagi. Saya hanya tinggal buka jendela.
Arjuno kadang sombong, sengaja menampakkan birunya yang indah, terlalu megah
dan kelewat hening. Di hari lain ia bisa jadi pemalu dengan berpayung
cumolonimbus hingga siang hari.
Ketika berkuliah di Surabaya,
rumah saya selalu jadi jujugan teman-teman yang main ke Malang. Saya selalu
pamerkan Arjuno dari balik pintu belakang rumah. Saya lupa kalau Arjuno
bukan punya saya. Perjumpaan kami tiap pagi rupanya ada akhirnya.
Tinggal di Jakarta rasanya
seperti hukuman tiap harinya. Yang tinggi bukanlah gunung, tapi gedung. Yang
turun di pagi hari bukan kabut hasil kondensasi, namun kabut polusi. Yang padat
bukan vegetasi, tapi taksi.
Seringkali saya ingin menyerah. Apa mengejar mimpi harus sesulit
ini? Makin banyak saya mengunjungi gunung, makin besar keinginan saya untuk
melepas semua tali temali dengan hingar binger kota. Mungkin saya bisa dapati
kedamaian diri dengan menanam bunga Lily di kaki Panderman daripada memikirkan
kebijakan publik negara ini.
Foto-foto yang saya unggah bukan tentang Arjuno, tapi Prau yang
baru saya kunjungi dua pekan lalu. Saya kira saya rindu Jawa Timur, namun
ternyata Gunung di Jawa Tengah juga terasa seperti rumah.
Di tahun 2020 semoga saya bisa mengunjungi atau mungkin mendaki
lebih banyak gunung lagi. Saya tetap bertekad, saya akan pulang ke kaki Arjuno,
suatu hari nanti.





Komentar