Love lock in Edinburgh
28 November 2021, salju pertama di beberapa daerah di Skotlandia. Hari itu saya berkunjung ke Edinburgh dan melewati sebuah jembatan di dekat Prince Street dimana orang-orang mengaitkan "love locks". Saya bergumam kepada teman saya, "orang-orang yang masang love lock disini, jangan-jangan udah pada putus?"
30 November 2021, lagi-lagi saya ke Edinburgh, melewati jalanan yang sama, namun kali ini yang kandas adalah yang saya miliki. Walau saya balut dengan bercandaan dan disambut tawa teman-teman saya ketika saya bilang "yah ternyata sekarang aku yang putus", tapi kehampaan atas yang pernah ada memang terasa nyata dan besar sekali.
Saat dia bilang bahwa dia tidak melihat masa depan bersama saya, merasa malah menyakiti satu sama lain, bukan hanya gambaran atas masa depan yang runtuh, tapi kejadian di masa lalu menjadi kabur.. seakan semua ilusi saja. Seakan semua tidak pernah terjadi. Seakan semua kedekatan emosional yang kami bangun menjadi tidak berarti, karena saya tidak berani mengakui kesalahan saya ketika memulai hubungan ini.
Lalu kepingan-kepingan memori di kepala saya menjadi buram. Menyusuri jalanan kota. Makan pecel di warung Boma. Makan sate di Jalan Sabang. Menjemputnya setelah pulang kerja untuk jalan kaki sampai sudirman. Beli biji kopi di Pasar Santa. Ketemu ondel-ondel di dekat kosan.
Sekarang saya jadi bingung, apakah semua ini benar-benar terjadi? Apa semua cuma mimpi dan saya baru saja bangun? Kenapa ketika saya bangun, saya ada di negara orang dan kenapa dingin sekali?
Setelah saya pikir lebih jauh, 2 bulan belakangan bisa semangat karena berpikir, tahun depan akan pulang ke Jakarta. Tahun depan semua yang kita alami kemaren, bisa kita ulang lagi. Syukur-syukur kalo bisa diulang sampai 100 tahun kedepan.
Tapi sekarang tidak lagi. Sekarang untuk apa menunggu-nunggu pulang. Perbedaan zona waktu 7 jam, jarak belasan ribu kilometer, dan ketakutan saya atas pandangan orang-orang akan kesalahan saya membuat impian-impian itu kehilangan magisnya dalam waktu 2 bulan saja.
Mungkin ini karma karena memulai sesuatu dengan salah. Atau karma karena meremehkan orang-orang yang menggantung love lock di jalanan Prince Street. Mau mengadu ke Tuhan mungkin Tuhan hanya akan bilang "makanya jangan jadi orang jahat." Jadi saya tulis saja. Siapa tau besok membaik. Atau mungkin besok lusa. Mungkin besok bisa menemukan alasan lain untuk kembali ke Jakarta suatu hari, dengan memori yang berbeda.



Komentar