Eulogi untuk Soemiati
Surabaya, 1996
Hari ini tepat 8 hari setelah Uti saya meninggal dunia. Pandemi ini memang jancuk benar. Tapi Uti sudah hidup 80 tahun lamanya, anak-anaknya dan cucu-cucunya menyayanginya. Aku harap Uti sudah menjalani sebaik-baiknya hidup di dunia. Hanya saja masalah berduka, bagaimana mungkin bisa mudah mengikhlaskannya?
Kata Ayah, waktu kecil Mbah Uti pernah demam seminggu lamanya. Orang tuanya memberinya obat kina, dan mungkin karena tidak tepat, Uti jadi kehilangan pendengarannya sejak kecil. Tapi Uti tetap jadi pendengar setia celotehan saya, dengan membaca gerakan bibir tentunya.
"Uti, aku wes iso nabung"
"Uti, mau jahitno klambi gawe boneka barbieku?"
"Uti, dungakno aku iso budhal sekolah maneh"
Uti seringkali cuman manggut-manggut, kadang nggak mengerti. Makanya Uti sangat minderan. Nggak mau difoto, nanti jelek katanya. Ngga pede untuk menjahitkan barbieku baju, katanya itu baju barbienya udah bagus-bagus. Tapi kemudian Uti mengajariku sendiri cara menjahit yang sederhana.
Tapi yang paling menghancurkan hati saya adalah tiap saya pulang dari Surabaya. Baik itu naik mobil sama keluarga, atau naik ojek untuk naik Bis antar kota, Uti selalu melambai paling lama. Sampai kendaraan yang saya naiki pergi jauuuuh sekali, baru Uti masuk ke rumah. Kikik pernah bilang, "mbah Uti kalo kita pulang, matanya selalu berkaca-kaca sambil dada dada"
Dan entah kenapa bagi saya hal kecil itu bermakna.
Mbah Uti yang tenang di Surga. Semoga sudah ketemu sama Mbah Koeng, dan doakan Shasha bisa nyusul juga ke Surga ya. Semoga disana Mbah Uti sudah bisa dengar indahnya suara. Sampai ketemu lagi, Uti.



Komentar