Gunung

Mari kembali ke suatu sore ketika aku masih mahasiswa tahun ke-dua. Pernah satu hari, aku sedang ada di gunung. Aku shalat Ashar diatas daun-daun kering di musim kemarau tahun 2012, pinus-pinus tua di hutan menjadi atapnya. Kulihat matahari kian rendah.

Aku tak mau mengada-ada, tapi damai yang kurasakan saat itu, layaknya dunia dan seisinya. Seakan aku tak perlu apa-apa lagi.

Mungkin karena itulah aku punya cita-cita untuk tinggal di gunung. Untuk menua bersama angin dingin bulan Juli yang kadang terlalu dingin. Untuk menyilangkan kaki sambil mencecap teh bunga melati sembari mendengar jangkrik di luar menyanyi. Mungkin ketika tua, aku akan sakit encok karena jalan menuju rumah akan menanjak. Tak apa, asal aku punya jendela. Jadi kalau hujan, aku bisa liat rintiknya.

Sayangnya hidup menuntutku untuk tinggal di gedung. Aku tak tahu apakah di luar hujan atau terang. Seringkali aku tak peduli. Tetes hujan tak lagi menarik, jikalau latarnya bukanlah gunung.

Seakrang, yang aku punya  hanya memori soal Shalat Asharku sore itu. Kian hari aku habiskan jauh dari gunung, aku berusaha berkompromi, mungkin aku harus menyebut gedung-gedung ini rumahku.

Tapi ada satu hal yang bagiku nisbi, dan tak ingin kukurangi. Mungkin aku tak perlu dunia dan seisinya. Aku hanya perlu melihat matahari terbit dari sisi bukit, seperti gambar-gambar anak TK itu, dari balik jendela.

Bagiku, itulah arti rumah


Lagu dari Kunto Aji, judulnya Mercusuar. Dinyanyikan di Lembang. Merdu,merdu sekali.






Komentar

Postingan Populer