"Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya"
"Hanya ada sedikit bintang malam ini,
mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya"
mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya"
Payung Teduh - Untuk Perempuan yang sedang dalam Pelukan
Postingan kali ini untuk sebuah kota yang sayangnya tidak bisa saya peluk
Benedict Anderson pernah bilang kalau nasionalisme itu layaknya komunitas imajiner. Tidak pernah saling mengenal, saling terpaut, saling berinteraksi, namun disatukan oleh perasaan imajiner yang terpatri dalam garis-garis batas yang kita kenal dengan negara. Perasaan khayal sebagai makhluk yang hidup bertetangga; menjejak tanah yang sama, mengecap air yang sama, berbicara dengan alun nada yang seirama, serta menyaksikan geliat matahari terbit dengan jingga yang serupa.
Benedict Anderson pernah bilang kalau nasionalisme itu layaknya komunitas imajiner. Tidak pernah saling mengenal, saling terpaut, saling berinteraksi, namun disatukan oleh perasaan imajiner yang terpatri dalam garis-garis batas yang kita kenal dengan negara. Perasaan khayal sebagai makhluk yang hidup bertetangga; menjejak tanah yang sama, mengecap air yang sama, berbicara dengan alun nada yang seirama, serta menyaksikan geliat matahari terbit dengan jingga yang serupa.
Itulah pula bagiku arti rumah. Jika rumah tidak harus selalu diartikan sebagai tempat dimana ari-ari kita ditanam, bolehlah aku merujuk Kota Surabaya sebagai rumah keduaku.
Belum genap 17 tahun usiaku ketika pertama kali aku datang ke kota itu. Aku ingat menginjakkan kakiku di terminal Bratang dan mencatat trayek semua angkutan kota yang menjelajahi Surabaya. Saat itu, transportasi dengan model ride-sharing sama sekali belum tercetus. 'Tersesat' sudah tentu menjadi nama tengahku.
"Sek rek, Micin nyasar" (Sebentar teman-teman, Micin-panggilanku ketika kuliah- masih tersesat)
"Micin tak takok'i ndik endi, tapi de e gak eroh. Biasa, paling yo nyasar," (Aku sudah tanya dimana Micin, tapi dia tidak tahu dia dimana. Biasa, paling juga tersesat)
Tapi aku tak pernah kehabisan teman-teman untuk menawarkan tumpangan dan sesimpul persahabatan; untuk pulang ke kos-kosan, untuk pergi ke terminal, untuk mengikuti kelas Bahasa Perancis, untuk pergi ke mall, atau untuk sekedar menghabiskan waktu di angkringan.
Aku ingat bagaimana sebagai mahasiswa, aku kehabisan uang sebelum waktunya Bunda mengirimkan jatah bulanan. Lalu ketika tiba saatnya malam dan aku lapar, tak pernah kulupa seorang teman datang ke kamar, membuka nasi bungkusnya untuk dinikmati bersama. Isinya ati ampela, dan aku tak suka. Namun cerita malam itu bukan tentang isi bungkusan yang dibawanya, tapi suka citanya untuk membagi sedikit yang dia punya untuk temannya yang sedang lapar disuatu malam diakhir bulan.
Dan bagaimana aku bisa lupa pertemuan pertamaku dengan Ibu, 4 bulan setelah kelulusanku di kampus almamaterku. Kata orang, sekali hatimu disentuh oleh kebaikan, kamu tak akan pernah lupa. Maka pelajaran itu yang aku dapatkan dari Ibu, yang hampir tiap hari menyentuh hatiku dengan kebaikan. Ibu yang membuatku memiliki cita-cita, bahwa aku ingin mencapai minimal setengah dari apa yang beliau ajarkan kepadaku.
Malang memberikanku kenyamanan akan rumah dan keluarga, akan angin gunung dan bakso yang enak di tiap sudut kota.
Apa yang ditawarkan Surabaya padaku, jauh dari kata nyaman. Di Surabaya aku belajar, hatimu akan hancur dan hancur lagi. Tapi kamu harus tetap berdiri. Di Surabaya juga aku belajar bahwa kakimu akan selalu kelelahan, bahumu akan selalu membawa beban yang tidak ringan. Tapi teriknya matahari Surabaya seirama dengan teriknya semangatmu untuk belajar hal baru. Dan umpatan yang diucapkan ditiap kalimat ketika berbincang, sesungguhnya adalah ekspresi kedekatan serta kasih sayang. Bebanmu tidak akan kamu bawa sendirian, akan selalu ada teman. Di Surabaya, aku menemukan orang-orang dengan hati paling tulus, kelakar yang paling ikhlas, dan senyum yang tidak pernah terputus yang terangkum dalam kalimat:
"Ayo rek ngopi sek" (teman-teman, ayo ngopi dulu)
Usia ku 23 tahun ketika aku meninggalkan kota itu. Mungkin sisa usia kepala 2 ku akan kuhabiskan di Jakarta, mungkin suatu hari Jakarta akan menjadi rumahku. Tapi Surabaya akan selalu menjadi kota yang kurindukan.
Hari ini usiaku 24 tahun. Jika kamu tanya di mana kampung halamanku, maka akan aku jawab:
Surabaya
Monumen Gubernur Suryo
SMAN 6 Surabaya, almamater ayah. Dipotret dari seberang jalan
Jalan Gubernur Suryo, dipotret dari Jembatan Penyebrangan
Kantor Gubernur Jawa Timur, dipotret dari trotoar di seberang jalan
Sebelum menyeberang ke Zangrandi.
Matahari pukul 3.30 sore di Zangrandi
Kantor Pos Taman Apsari. Kantor pos langganan ketika harus mengirim Jurnal yang dahulu saya dan teman-teman kelola ke berbagai instansi.
Taman Prestasi dan Es Krim, jam 4 sore
Tempat ngopi kesukaan, Indomart Point Basuki Rahmat.
Alasan tempat ini jadi favorit saya adalah selain kopinya yang memang enak, juga karena satu bangunan dengan Indomart, sehingga tidak sulit kalau tiba-tiba ditengah ngopi kita butuh Salonpas. Indomart ini juga berseberangan dengan Gramedia. Kalau mau menyeberang jalan, kita hanya perlu tekan tombol untuk pejalan kaki. Kemudian akan terdengar lagu "Rek ayo rek," tanda kita sudah boleh menyebrang.
Kemarin sambil menunggu gojek untuk pulang, saya sempatkan ke Point Cafe. Betapa beruntungnya saya hari itu, semua minuman sedang diskon, jadi cappucino kesukaan bisa dibeli dengan selembar sepuluhribuan.
Sampai jumpa lagi, Surabaya!
Semua foto diambil oleh saya, diedit dengan VSCO pakai filter KK2













Komentar