make it to the top: Panderman
postingan ini ditulis dengan tangan dan kaki yang njarem-njarem, karena saya, BARU SAJA TURUN GUNUUUNG TEROREEET hahaha. Adalah Panderman, gunung yang pertama saya daki (dan belum kepikiran untuk mendaki gunung kedua atau ketiga, masih njarem cyin huhu) yang saya daki sama keluarga. Well, keluarga ipar lebih tepatnya, atau sepupu dari sepupu saya, atau anak-anak dari ipar adik ibu saya, atau keponakan dari om ipar saya, ya begitulah tidak usah dibuat pohon keluarga.
Dan saya yang paling tua. Ya. TUA. Peserta pendakian ada saya, Ema dan Yoga, keduanya sepupu dalam saya, dan sepupu ema dan Yoga yakni Naufal (pemimpin pendakian, yg paling muda hhhh), Bryan dan Bila. Ketika pertama mau naik, adik saya, Kiki, sudah berpesan sama yg lain
"lek misale arek ikii ngabot2i tinggalen ae" katanya ke Yoga
huu durhakaaa, dasar kau adik tidak tangguh.
Dalam hati saya selow saja. Ah apa bedanya sama cuban rondo sih, kan kalo cuban rondo saya udah khatam, bahkan jalur paling ekstrim nya wkwkw. tapi ternyata... saya.. gegabah
Pendakian dimulai kira-kira pukul 4 sore. Awal masuk jalanan masih paving. 1 langkah. 2 langkah. 10 langkah. SAYA MAU TURUN AJA UWOOOO CAPEEQQ Q GABISA DIGINIIN. padahal baru jalan paving, tapi tanjakannya serius curam. Tapi saya masih strong. Bila di awal sempat muntah-muntah, sehingga kami sempet nggak yakin bisa naik ke puncak.
Sekian jam mendaki, matahari mulai turun. Ketika adzan Magrib sampailah kami di check point pertama, namanya latar ombo. Kami mulai makan dan minum biar tas entengan :" dibumbui pasir dan debu panderman, suhu mulai dingin karena kami ga bergerak. Saat itu noval, bryan, dan yoga mulai berbicara soal tenda.
"kon iso kan nggawe tendane?"
"Lho aku ga isok lho"
"lo sing genah, awakmu sing nyilih tak kiro kon iso"
"lho aku gak tau mbangun tendo"
kemudian ketiganya berdebat hingga kami memutuskan untuk mengirim mata-mata, haha bercanda, kami menengok nengok tenda lain yang kelihatannyat perfectly built. ketika tenda hampir jadi, bryan bicara dengan serius.
"iki yo temenan iki aku ngomong. Timbangane telat"
Kami merapat dengan serius
"lek ngkok tendane wes dadi, ojok ngomong Horeeee lo ya. koyok wong ndeso"
jeduar!!
Pada akhirnya tendanya pun jadi, tapi kami memutuskan segera berangkat ke dari latar ombo menuju puncak karena takut tidak dapat tempat untuk mendirikan tenda di atas nanti. Dan disinilah pendakian sebenarnya baru dimulai. Karena kami benar-benar, mendaki. climbing. menek. mbrangkang. whatever. Dari jalur ini pula faktor U(sia) mulai menentukan, karena saya jadi yg paling sering minta break diantara tulang-tulang muda lainnya wkwk. Bahkan Bila yang tadinya kembung jadi makin strong karena makan gula merah. Sungguh berkhasiat. Sekalian aja bikin kolak.
Saya mendaki sampe otak sama kaki udah ga sinkron. Untung Bryan yang dibelakang saya cukup perhatian untuk mendorong kalo saya ga nemu pijakan. Yoga juga stand by paling belakang, padahal carrier dia paling berat. Hingga kira-kira pukul 11, kami sampai di puncak. YEA FINALLY! kami mendirikan tenda untuk menunggu sunrise esok hari
Saya menyesal meremehkan 2000mdpl huhuu. Walopun kalo dibanding gunung2 lain, gunung panderman mah cetek, tapi sampe keatas rasanya udah give up on my everything :" *dah lebay ah wkwk*
saya ga perlu mendeskripsikan lah seperti apa pemandangan nya, saya bonus pap pap aja yaah haha. Tapi saya senang! Achieveing something beyond our comfort zone is seriously priceless!! See you on next journey peeps!!











Komentar