Surabaya

sendratari di balai pemuda,

seharusnya jadwal ngajar di Rumah Bahasa. tapi karena gak ada peserta akhirnya kabur nonton sendratari di bekas bioskop mitra yang sekarang sudah disulap jadi teater kece. setelah pementasan, saya baru sadar waktu kelas 3 sd dulu, saya pernah mainin teater dengan cerita yang sama. dan tahukah kalian apa peran saya?

prajuritnya kencana wungu..

begitulah jika anda ditakdirkan hidup dengan muka latar belakang.haha kidding :v


pameran lukisan 'hijau'

Masih di balai pemuda, dihari yang sama. didepan lukisan abstrak nan indah.
namun sayangnya dengan kapasitas otak yang saya punya, pada titik ini, saya tak tahu lagi.............

apa itu seni


Bulan Mei sudah hampir berakhir. Saya bersyukur karena banyak pencapaian dan tanggungjawab yang saya selesaikan. Surabaya jadi setting ceritanya. Untuk itu, terimakasih pada Surabaya untuk segala keramahannya. Untuk kesempatan di Rumah Kasih, Rumah Bahasa, segala kegiatan kampus, juga untuk seni yang bisa dengan gratis saya nikmati.

“All cities are mad: but the madness is gallant. All cities are beautiful, but the beauty is grim.” 
― Christopher Morley

Komentar

Postingan Populer